Sabtu, 27 Desember 2014

Relevansi Ajaran Tumimbal Lahir dalam Dunia Modern



Relevansi Ajaran Tumimbal Lahir dalam Dunia Modern
Oleh: Haris, S.Ag.


Anekajāti saṁsāraṁ Sandhāvissaṁ anibbisaṁ Gahakārakaṁ gavesanto Dukkhā jāti punappunaṁ
Tumimbal lahir merupakan lingkaran penderitaan yang tiada akhirnya. Berkelana tanpa menemukan pendiri “rumah” ini, kelahiran yang berulang-ulang adalah penderitaan, (Dhammapada, Jara Vagga: 153)

Pendahuluan

Dalam ajaran Buddha, umat Buddha mengenal pokok-pokok ajaran Buddha, salah satu pokok ajaran dalam Buddhisme adalah keyakinan pada Hukum Kamma dan Punnabhava. Hukum ini saling berkaitan dalam bekerjanya. Menurut Digha Nikaya Mahanidana Sutta (khotbah panjang tentang asal mula) yang saling bergantungan, salah satu kelahiran mengkondisikan usia tua dan kematian, jika tidak ada kelahiran maka tidak ada kondisi  bagi usia tua  dan kematian, (Walshe, 2009: 191). Hal tersebut relevan dengan khotbah Sang Buddha dalam AN III [224] disaat bhikkhu Ananda bertanya kepada Sang Buddha tentang penjelmaan, Sang Buddha menjelaskan: “Demikianlah, Ānanda, bagi makhluk-makhluk yang terhalangi oleh ketidak-tahuan dan terbelenggu oleh ketagihan, maka kamma adalah lahannya, kesadaran adalah benihnya, dan ketagihan adalah kelembaban bagi kesadaran mereka untuk tumbuh di alam rendah, menengah dan alam tinggi. Dengan cara inilah terjadi produksi penjelmaan baru di masa depan. “Jika, Ānanda, tidak ada kamma yang matang di alam indria, alam berbentuk dan alam tanpa bentuk, mungkinkah penjelmaan di alam itu terlihat?” tidak bhante.
Semua makhluk yang hidup di dunia tidak lepas dari kelahiran dan kematian. Kematian tidak berarti memasuki kehidupan abadi, tetapi sebaliknya, merupakan pintu gerbang menuju tumimbal lahir baru yang akan diikuti oleh pertumbuhan, pelapukan, dan kematian. Kematian dalam pandangan agama Buddha tidak dianggap sebagai akhir dari kehidupan. Selama lobha (keserakahan), dosa (kebencian), serta moha (kegelapan atau kebodohan batin) belum dilenyapkan, kematian adalah awal dari kelahiran.

Proses kematian
            Bagaimanakah proses kematian terjadi? Dalam Abhidhammaatasangaha bahwa pada saat kematian terjadi, kesadaran kematian (cuti citta) lenyap, selanjutnya muncul kesadaran penyambung (patisandhi-citta) untuk meneruskan siklus kehidupan berikutnya, (Kaharuddin, 1989: 28). Keduanya saling berhubungan dan tidak memiliki waktu antara. Misalnya seseorang yang baru meninggal dari alam manusia, segera lahir kembali sebagai makhluk lain, apakah sebagai makhluk menderita, sebagai manusia atau terlahir sebagai makhluk bahagia di alam surga atau brahma.

Empat jenis kelahiran
Sedangkan umat Buddha mengenal kelahiran yang terbagi menjadi empat jenis. Dalam Digha Nikaya Sangiti Sutta bhikkhu Sariputta menyebutkan empat jenis kelahiran, yaitu kelahiran melalui kandungan, telur, kelembaban, dan spontan, (Walshe, 2009: 522). Sedangkan kelahiran sebagai manusia kita mengenal kelahiran melalui kandungan.

Proses kehidupan sebagai manusia
Bagaimanakah proses kelahiran melalui kandungan sebagai manusia? Sang Buddha menjelaskan dalam Majjhima Nikaya II Mahatanhasankhaya Sutta [266] bahwa kelahiran sebagai manusia dipengaruhi tiga faktor, yaitu: “Bila ibu dan ayah berkumpul dan hari itu masa subur sang ibu, selanjutnya calon makhluk yang akan dilahirkan ada maka melalui tiga faktor itu makhluk atau benih kehidupan muncul, (Anggawati dan Cintiawati, 2005: 743).

Berbagai bukti kelahiran ulang di jaman Sang Buddha
Dalam Majjhima Nikaya II Mahasaccaka Sutta [248] disaat setelah pertapa Sidharta mencapai Bodhi dan dalam waktu jaga pertama beliau mengarahkan pada pengetahuan tentang ingatan pada kehidupan-kehidupan lampau sehingga beliau mengingat satu kehidupan, dua kehidupan, tiga kehidupan dan sampai beribu-ribu kehidupan. Selanjutnya di malam jaga kedua Sang Buddha mengarahkan pengetahuannya tentang lenyap dan muncul kembalinya para makhluk-makhluk, melalui mata dewa yang termurnikan Sang Buddha mampu melihat para makhluk muncul dan lenyap dan muncul kembali, rendah dan agung, elok dan buruk rupa beliau memahami sesuai dengan perbuatan mereka, (Anggawati dan Cintiawati, 2005: 704-705).
Dalam Samyutta Nikaya I Devaputtasamyutta [56] Anathapindika setelah meninggal terlahir sebagai dewa Tusita selanjutnya mendatangi Vihara Jetavana, Anathapindika bersujud dengan hormat kepada Sang Buddha dan beliau mengatakankan: “Jetavana sudah menjadi tempat tinggal tetap Sang Buddha dan Sangha, saya sangat gembira, selanjutnya Sang Buddha menceritakan kejadian itu kepada para Bhikkhu”, (Anggawati dan Cintiawati, 2007: 312-313). Selain itu dalam Dhammapada Atthakatha syair 224 siswa Buddha mampu membuktikan juga keberadaan kelahiran kembali melalui kunjungan bhikkhu Moggallana ke alam-alam surga. Bhikkhu Moggallana bertanya kepada salah satu dewa, atas  perbuatan baik apa yang telah dilakukan sehingga engkau dapat terlahir di alam Dewa. Dewa itu menjawab karena ia sering banyak berdana, ( Tim Penterjemah, 2012: 374-375).



Relevansi tumimbal lahir dan bukti-bukti kelahiran ulang di jaman modern
Kelahiran ulang tidak hanya sekedar mitos, namun berbagai ilmuwan modern mampu meneliti dan membuktikan keberadaan kelahiran kemabali. Dalam buku Born Again karya dr. Walter Semkiw menuliskan bahwa seorang Peneliti Kelahiran kembali DR. Ian Stevenson yang merupakan Profesor dari Fakultas Psikologi Universitas Virginia U.S.A. Beliau adalah seorang ilmuwan yang telah diakui kepakarannya, yang telah mempelajari kasus-kasus anak-anak yang ingat akan kehidupan-kehidupan lampau mereka selama empat puluh tahun, (Semkiw, 2008: 34). Selain itu dalam buku Karma Pencipta Sesungguhnya yang dituliskan oleh DR. Mehm Tin Mon berkebangsaan Srilanka beliau menyebutkan salah satu anak bernama William James Sidis, bayi ajaib dari Amerika bisa membaca dan menulis ketika berumur dua tahun. Dia bisa berbicara bahasa Prancis, Rusia, Inggris, Jerman dan sedikit Latin dan Yunani ketika berumur delapan tahun, ( Mon, 2011: 32).
Selain itu kehidupan lampau dapat diingat dengan Regresi melalui Hipnosis. Cara ini dilakukan karena orang-orang yang tidak mampu mengingat kehidupan lampau mereka bisa dilakukan dengan cara dihipnosis dan diminta menceritakan kehidupan lampau mereka. Dengan hipnosis seseorang bisa ditanya oleh orang yang menghipnosis untuk menjawab pertanyaan tentang pengalaman masa lalu, tentang kejadian masa kecil dan tentang kehidupan lampaunya. Salah satu contoh Ibu N. Baker, seorang ibu rumah tangga di Inggris, tidak bisa berbicara bahasa Prancis. Dia tidak pernah mempelajari bahasa Prancis dan dia tidak pernah pergi ke Prancis. Tetapi ketika dia dihipnosis, dia mampu berbicara banyak kejadian yang terjadi di Paris dalam bahasa Prancis yang lancar, (Ibid, 2011: 34).
Sebuah tim psikologi dan dokter yang bekerjasama dengan Technische Universitat Berlin, Jerman, baru-baru ini mengumumkan bahwa ada beberapa bentuk kehidupan setelah kematian. Para dokter memberikan kesimpulan dari penelitian medis yang mereka lakukan terhadap pengalaman seseorang menjelang kematian. Para tim peneliti mengawasi kondisi pasien yang secara medis dinyatakan mati selama hampir 20 menit sebelum hidup kembali. Proses ini diulang  pada 944 orang sukarelawan selama empat tahun terakhir. Untuk membuat pasien dalam keadaan mati, tim peneliti melakukan pencampuran terhadap beberapa jenis obat-obatan termasuk yang memungkinkan tubuh untuk bertahan dalam keadaan mati secara medis hingga melalui proses penghidupan kembali tanpa merusak tubuh, (http://myfitriblog.wordpress.com/2014/09/19/para-ilmuwan-jerman-buktikan-ada-kehidupan-setelah kematian/).

Jalan mencapai kelahiran ulang yang baik
Bagaimana Jalan mencapai kelahiran yang baik? Dalam Majjhima Nikaya III Saleyyaka Sutta [286] ketika itu Sang Buddha sedang mengembara di Negeri Kosala, perumah tangga di Desa Sala datang menjumpai Sang Buddha dan menanyakan, “Bhante Gotama, apakah penyebab mengapa sebagian makhluk, saat hancurnya tubuh, setelah mati, terlahir ulang dalam keadaan sengsara, di tempat buruk, di alam rendah, di neraka? Dan apa penyebab mengapa sebagian makhluk, saat hancurnya tubuh, setelah mati, terlahir ulang di tempat baik, di alam surgawi? Sang Buddha menjawab, “Para perumah tangga, karena perilaku yang buruklah, yaitu perilaku yang tidak sejalan dengan Dhamma, maka sebagian makhluk, saat hancurnya tubuh, setelah mati, terlahir ulang dalam keadaan sengsara, di tempat buruk, di alam rendah, di neraka. Karena perilaku yang baiklah, yaitu perilaku yang sejalan dengan Dhamma, maka sebagian makhluk saat hancurnya tubuh, setelah mati, terlahir ulang di tempat yang baik, di alam surgawi”, (Anggawati dan Cintiawati, 2006: 786-787).
Dengan demikian perilaku yang baik melalui ucapan, perbuatan jasmani dan pikiran yang baik akan menghantarkan dan mengkondisikan makhluk terlahir di alam bahagia.

Kesimpulan
            Salah satu Pokok Ajaran Buddha adalah Hukum Kamma dan Punnabhava yaitu ajaran tentang kelahiran kembali. Sebagai makhluk hidup selama lobha (keserakahan), dosa (kebencian), serta moha (kegelapan atau kebodohan batin) belum dilenyapkan, maka kelahiran dan kematian akan terus mengikuti makhluk tersebut. Hal tersebut telah Sang Buddha jelaskan dalam berbagai khotbah Buddha yang menjelaskan pada kelahiran dan kematian sehingga para murid-murid Buddha seperti bhikkhu Moggallana mampu membuktikann kelahiran ulang.
            Kelahiran ulang tidak hanya sekedar mitos, namun para ilmuwan mampu menyelidiki dan membuktikan keberadaan kelahiran ulang dengan berbagai metodenya. Dengan demikian, sebagai umat Buddha sebelum terealisasi tujuan akhir Nibbana minimal mampu menciptakan kelahiran ulang yang baik dengan cara menjaga kualitas ucapan, tindakan jasmani dan pikiran melalui praktik ajaran Buddha sedikit demi sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

Anggawati dan Cintiawati. 2005. Majjhima Nikaya Kitab Suci Agama Buddha II . Klaten: Vihara Bodhivamsa.
___________. 2006. Majjhima Nikaya Kitab Suci Agama Buddha III . Klaten: Vihara Bodhivamsa.
___________. 2007. Samyutta Nikaya Kitab Suci Agama Buddha I . Klaten: Vihara Bodhivamsa.
Jhoe Wain. 2014. Para Ilmuwan Jerman Buktikan Ada Kehidupan Setelah Kematian, (Online), (http://myfitriblog.wordpress.com/2014/09/19/para-ilmuwan-jerman-buktikan-ada-kehidupan-setelah kematian/, diakses 16 Oktober 2014).
Kaharuddin J. Pandit. 1989. Abhidhammatthasangaha. Jakarta: Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda.
Mon. 2010. Karma Pencipta Sesungguhnya. Terjemahan Agus Wiyono dan Lai Moi. 2011. Tanpa Kota: Yayasan Hadaya Vatthu.
Semkiw Walter. 2006. Born Again. Terjemahan oleh Tas Fan Sadikin. 2008. Tanpa Kota: Awareness Publication
Tim Penterjemah Vidyasena. 2012. Dhammapada Atthakatha Kisah-Kisah Dhammapada. Yogyakarta: Vidyasena Production Vihara Vidyaloka.
Walshe Maurice. 1995. Khotbah-Khotbah Panjang Sang Buddha Digha Nikaya. Terjemahan oleh Team Giri Manggala Publication dan Team DhammaCitta Press. 2009. Tanpa Kota: DhammaCitta

Dhamma untuk Perumah Tangga dalam Vyaggapajja Sutta



Dhamma untuk Perumah Tangga dalam Vyaggapajja Sutta
Oleh: Haris, S.Ag

Jika ditinjau lebih jauh, sebenarnya ajaran Buddha tidak hanya mencakup bhikkhu dan bhikkhuni saja, tetapi juga umat perumah tangga pria dan wanita. Keempat kelompok yang membentuk komunitas Buddhis ini memiliki satu tujuan akhir. Tujuan itu adalah pencapaian pembebasan akhir atau Nibbana.
Walaupun Nibbana berarti pembebasan akhir dari tiga kotoran batin yang berupa keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, namun dalam perjalanannya menuju pembebasan, seorang umat Buddha harus hidup di dunia dan berhadapan dengan kondisi-kondisi eksistensi duniawi. Masalah ini mungkin sering sekali dirasakan, khususnya oleh umat Buddha perumah tangga, yang mungkin menemukan bahwa tuntutan-tuntutan dan daya tarik dari kehidupan duniawi cenderung membawa seseorang menjauh dari jalan menuju pembebasan. Akan tetapi, Buddha menyadari dan memperhatikan dilema yang dihadapi oleh siswa-siswa perumah tangga serta memberikan perhatian khusus terhadap masalah tersebut. Beliau mengajarkan para pengikut perumah tangga tentang bagaimana cara mengatur kehidupan perumah tangga sesuai dengan prinsip-prinsip etis dalam Dhamma dan bagaimana cara menjalani kehidupan perumah tangga yang sukses tanpa menyimpang dari jalan yang benar sesuai Buddha-Dhamma.
Untuk itu di dalam Anguttara Nikaya dijelaskan di jaman Sang Buddha ada seorang pemuda dari keluarga Vyagghapajja bernama Dighajanu yang tinggal di kota Kakkarapata, Kerajaan Koliya. Dalam sutta itu disebutkan Dighajanu sewaktu mengunjungi Sang Buddha ia memohon agar Sang Buddha berkenan memberikan suatu ajaran yang berguna bagi upasaka yang berkeluarga, yang mempunyai isteri dan anak untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan sekarang dan yang akan datang.
Sang Buddha menjelaskan, bahwa ada empat cara untuk mendapatkan kebahagiaan sekarang atau dalam kehidupan saat ini, yaitu:
1. Seseorang hendaknya ahli, efisien, tekun dan giat dalam setiap pekerjaan dan mengerti serta memahami pekerjaan yang dilakukannya dengan baik. (seorang yg ahli)
2. Ia pandai melindungi penghasilan yang diperolehnya dari pekerjaan yang benar, bahkan melipat gandakannya.
3. Ia mencari pergaulan yang baik (Kalyanamitta), yaitu teman yang setia, terpelajar, baik budi, tidak kikir dan cerdas, yang akan membantunya dengan cara yang benar, jauh dari kejahatan.
4. Ia hidup dalam batas-batas kemampuannya, sesuai dengan penghasilannya, serta tidak boros namun juga tidak pelit
Selanjutnya, terdapat empat hal yang berguna untuk mendapatkan kebahagiaan yang akan datang, atau kebahagiaan di kehidupan berikutnya yaitu:
1. Seseorang memiliki keyakinan yang kuat terhadap Tiratana
2. Seseorang senantiasa hidup dalam moralitas Buddhis, yaitu  mempraktikkan 5 sila pancasila Buddhis
3.  Seseorang selalu memiliki kedermawanan, yaitu suka menolong orang lain dan baik hati
4.  Seseorang melatih diri dalam kebijaksanaan dengan selalu mengembangkan pandangan benar yang akan membawa pada pembebasan akhir yaitu nibbana.
Dari Sutta tersebut terlihat bahwa kesejahteraan ekonomi diperlukan untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan duniawi ini, namun tidak memandang kemajuan itu sebagai sesuatu yang benar kalau hanya didasarkan atas kebendaan dengan mengabaikan dasar-dasar moral spiritual atau kebahagiaan batin. Untuk itu sebagai perumah tangga kemajuan materi merupakan salah satu tujuan di dunia, namun tidak melupakan pentingnya kemajuan moralitas dan batin untuk menghasilkan suatu masyarakat yang bahagia, aman dan sejahtera.



Memahami Tindakan dalam Keseharian



Memahami Tindakan dalam Keseharian
Oleh Haris, S.Ag

Terlahir sebagai manusia merupakan suatu kebahagiaan, kebahagiaan itu akan lengkap bila kita memahami kelahiran itu dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Hal ini Sang Buddha tegaskan dalam Dhammapada 182 bahwa: Adalah sungguh sulit untuk dapat terlahir sebagai manusia, sungguh sulit hidup sebagai manusia, sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Dhamma….”. Lebih lanjut Sang Buddha memberi perumpamaan dan perbandingan dalam  (Nakhasitha Sutta, SN 13.1 & SN 20.2) bahwa : “Para bhikkhu lebih banyak mana antara debu yang ada di ujung kuku-Ku dengan debu yang ada di alam semesta ini, selanjutnya para bhikkhu menjawab: tidak sebanding yang mulia debu di ujung kuku Yang Mulia dengan debu yang ada di alam semesta. Selanjutnya Sang Buddha meneruskan kata-katanya, Demikian juga para bhikkhu setelah kematian manusia sungguh sangat sedikit yang terlahir sebagai manusia seperti debu yang menenpel pada kuku di ujung jari ku ini, namun setelah kematian dari alam manusia akan lebih banyak yang terlahir sebagai makhluk menderita seperti terlahir di alam Neraka, binatang, hantu, dan raksasa”.
Selanjutnya di dalam syair Dhammapada 182 di atas Sang Buddha juga menjelaskan Sungguh sulit dapat mendengarkan Dhamma. Penjelasan Sang Buddha tersebut juga sangat relevan dengan salah satu kotbah Buddha yang terdapat di dalam Digha Nikaya, Sanghiti Sutta, Sang Buddha menjelaskan bahwa terdapat sembilan saat orang tidak dapat mendengarkan dan mengikuti ajaran Sang Buddha, bila makhluk itu terlahir di: “ 1). Alam Neraka, 2) terlahir di alam Binatang, 3) terlahir dialam Hantu, 4) terlahir di alam asura/raksasa, 5) jika terlahir di dalam kelompok dewa yang berumur panjang, 6) terlahir di suatu daerah yang tidak pernah dikunjungi oleh bhikkhu, bhikkhuni, 7) jika ia terlahir yang ada ajaran buddha namun memiliki pandangan salah, 8) jika ia terlahir ditempat yang cocok ada Buddha Dhamma namun terlahir cacat tuli, 9) Jika ia terlahir di daerah yang ada Buddha Dhamma namun ia bukan pengikut Buddha”. Demikian Sang Buddha menjelaskan.
Namun jika kita menyadari dan mengerti bahwa saat ini kita hidup dalam keadaan yang mendukung dalam arti kita telah terlahir sebagai manusia dan saat ini kita dapat mempelajari, mendengarkan dan mempraktikkan Dhamma, maka kita seharusnya bersyukur bahwa hal-hal yang baik telah kita dapatkan yaitu kita dapat mengenal dan mempelajari Buddha Dhamma. Dengan bekal Buddha Dhamma dapat dipraktikkan dalam diri kita maka kita sebagai umat buddha senantiasa bertindak, berucap dan berpikir dengan baik dan dapat berhati-hati sebab melalui perbuatan, ucapan dan pikiran kita lah semua perbuatan akan kita warisi dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan berikutnya.
Dalam Kitab Anguttara Nikaya II, hal 355 Sang Buddha menjelaskan bahwa: Kam-mas-sakâ, Kam-madâ-yâ-dâ, Kam-mayo-nî, Kam-maban-dhû, Kam-mapatisaranâ. Yam-kam-mam-karis-san-ti, Kal-yâ-nam-vâ-pâ-pakam-vâ, Tas-sadâ-yâ-dâ-bhavis-san-ti yang artinya: “Semua makhluk adalah pemilik perbuatan meraka sendiri, Terwarisi oleh perbuatan mereka sendiri, Lahir dari perbuatan meraka sendiri, Berkerabat dengan perbuatan mereka sendiri, Tergantung pada perbuatan mereka sendiri.Perbuatan apa pun yang akan mereka lakukan baik atau pun buruk; Perbuatan itulah yang akan mereka warisi”. Melalui Sabda Buddha tersebut menandakan bahwa kita sendiri yang akan menentukan kualitas perbuatan baik dan buruk, dan melalui kita sendiri yang akan menciptakan kebahagiaan atau penderitaan dalam kehidupan ini atau dalam kehidupan yang akan datang.
Sebagai umat buddha setelah mengetahui kualitas dan banyaknya perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari yang telah kita lakukan maka hendaknya kita sebagai umat buddha tidaklah lupa untuk melimpahkan jasa-jasa kebajikan yang telah kita perbuat dalam kehidupan sehari-hari yang telah kita lakukan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran. Selanjutnya perbuatan baik itu kita limpahkan kepada leluhur-leluhur kita yang telah meninggal, seperti ayah dan ibu kita dalam kehidupan sebelum kita hidup di dunia ini. Hal tersebut juga telah dilakukan oleh Samanera Sanu dan Bhikkhu Sariputta bahwa dalam kehidupan itu mereka telah melakukan perbuatan baik dan selanjutnya dilimpahkan kepada sanak keluarga seperti ayah dan ibu di kehidupan yang lalu.
Kisah samanera Sanu Kalau kita lihat dalam kitab suci Dhammapada yang dijelaskan dalam komentarnya yaitu di dalam Dhammapada Athakattha terbitan (Vidyasena, 1997: 451) disitu terdapat kasus pelimpahan jasa. Dimana seorang samanera yang bernama samanera Sanu yang setelah mengulang khotbah Buddha atau kalau sekarang bisa dikatakan seperti membaca paritta, maka setelah selesai membaca khotbah. Selanjutnya samanera Sanu melimpahkan jasa perbuatan baik itu kepada leluhurnya dengan mengatakan: “Semoga jasa perbuatan baik yang telah saya lakukan dengan mengulang khotbah Buddha dapat mengkondisikan dan melimpah pada sanak saudara dan leluhur-leluhur saya yang telah meninggal dan semoga mereka berbahagia”. Kalau kita petik dalam kisah tersebut memang benar, bahwa para leluhur dari samanera Sanu yang dulunya terlahir di alam dewa tingkat rendah seperti alam Catumaharajika, sehingga sinar tubuh leluhurnya menjadi terang benderang sinarnarnya. Demikian juga para leluhurnya yang lain yang terlahir di alam peta atau hantu dapat terlahir di alam yang lebih bahagia. Untuk Itu pelimpahan jasa yang dilakukan oleh sanak saudara atau yang dilakukan anak kepada leluhurnya sangat-sangat membantu.




Menghadapi Celaan dan Pujian dalam Praktik Dhamma Sehari-hari



Menghadapi Celaan dan Pujian dalam Praktik Dhamma Sehari-hari.
Oleh: Haris,S.Ag

Pendahuluan
Sebagai manusia yang hidup bermasyarakat tentunya sehari-hari tidak lepas dari interaksi antara satu manusia dengan manusia lain. Interaksi dapat terjadi melalui perantara orang lain atau pun secara langsung, kondisi yang demikian dapat juga menjadikan kesalah pahaman antara satu manusia dengan manusia lain, dengan demikian tidak heran dapat terjadi perselisihan, cekcok bahkan salah paham. Ketidak cocokan dan salah paham dapat juga menjadikan masalah baru yang dapat timbul dalam hidup setiap manusia.

Semua manusia yang hidup di dunia ini tidak dapat lepas dari masalah, masalah akan terus ada selama manusia masih hidup, karena kehidupan ini dicengkram oleh delapan kondisi duniawi: “Untung – Rugi, Terkenal – Tidak terkenal, dipuji – dicela, bahagia – dan sedih”. ( An 3, 488 ). Salah satu dari delapan kondisi duniawi adalah di puji dan dicela, dua keadaan ini akan muncul dalam kehidupan setiap manusia. Bila kondisi baik atau keadaan seseorang mendapatkan salah satu prestasi di dalam bidangnya, bagi yang merasa cocok maka pujian akan datang kepada orang tersebut, namun sebaliknya bila seseorang mendapatkan keadaan yang tidak baik maka sudah pasti cela yang akan didapatnya.

Keadaan dipuji dan dicela dapat menjadikan seseorang melakukan hal-hal buruk melalui perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran. Ada beberapa kasus sering terjadi dalam media cetak atau TV sering kita membaca dan melihat berbagai kasus hanya dipicu dari ejekan atau celaan antara satu orang dengan orang lain maka dapat menjadikan tawuran, perkelahian hingga terjadi pembunuhan. Jika telah terjadi hal yang demikian, seakan nilai-nilai moral kemanusiaan seperti telah terpinggirkan. Untuk itu bagaimana kontribusi Dhamma dalam memberikan ajaran moral untuk menghadapi cela dan pujian yang sewaktu-waktu dapat terjadi pada setiap manusia dalam kehidupan sehari hari?

Celaan dan pujian sering terjadi pada setiap manusia bahkan diri kita. Hal tersebut sangat wajar terjadi dalam lingkungan kehidupan sehari-hari, namun bagaimana sikap kita menjelaskan berkenaan dengan bagaimana celaan dan hinaan jika sewaktu-waktu datang pada diri kita terutama dengan prinsip keyakinan kita kepada Buddha Dhamma dan Sangha, atau celaan yang tertuju pada TIRATANA. Dalam Digha Nikaya, Brahmajala Sutta Sang Buddha menjelaskan: “Para bhikkhu, bila orang mengucapkan kata-kata yang menyalahkan saya, Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal itu kamu membenci, dendam atau memusuhinya. Bila karena hal tersebut kalian marah atau tersinggung, maka hal itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian, dan mengakibatkan kalian marah dan tidak senang, apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka itu baik atau buruk?”. “Tidak demikian, Bhante”. “Tetapi bilamana ada orang mengucapkan kata-kata yang menyalahkan saya, Dhamma dan Sangha maka kalian harus menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya, dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar, atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami, dan bukan kami”.

Dari uraian sutta diatas sangatlah jelas bahwa Sang Buddha tidak mengharapkan seseorang untuk marah, membenci walaupun orang itu telah mencela atau mengatakan sesuatu yang belum tentu benar pada kita. Namun kita berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya. Melalui penjelasan yang benar yang tidak menyakiti perasaan pendengarnya agar kita hidup bahagia.